• Abis Pulang Jalan jalan
  • Bergaya
  • Foto foto di jogyakarta
  • Segera Buatlah Blog Anda SeKreatif Mungkin,Saya Akan Membantu Anda.
  • Sangat Berkwalitas Yang Cukup Baik Dan Tidak Panas Di badan.
  • Ini Merupakan Kemasan Terbaru Dari Coklat Pasta Diamond. Kemasan Plastik Kedap Udara, Terdapat Tutup Untuk Memudahkan Buka / Tutup.

Kamis, 22 Desember 2011

Anak TK Tidak Mau Menulis, Bukan Karena Malas Loh!

Anak TK Tidak Mau Menulis, Bukan Karena Malas Loh!

by AsahAsuh.com | Referensi Pengasuhan Buah Hati Kita on Wednesday, November 9, 2011 at 1:11pm
 Saya lumayan sering mendengar orang tua yang mengeluhkan anaknya malas menulis. Kalau sudah dengar begitu, saya suka gregetan. Pertama gregetan karena saya ngga suka dengar cap negatif sepertii "malas" diberikan pada anak. Anak masih kecil, baru juga TK kok sudah dibilang malas. Belum juga usianya sampai ke usia belajar. Wajar ah kalau anak masih "ngga rajin" belajar. Lagipula cap itu bisa jadi do'a, sayang-sayang anak lahir dengan potensi positifnya lalu dibilang malas.
Kedua, mereka enggan menulis karena menulis itu membuat mereka capek. Nah ini yang mau saya tulis. Kenapa anak cepet capek waktu menulis?

Menulis yang mudah bagi sebagian besar orang dewasa, tetapi sebenarya  tidaklah mudah bagi anak-anak. Menulis sebenarnya memerlukan koordinasi yang cukup rumit antara mata, tangan, dan tentu saja pikiran kita. Harus selaras kan antara ketiganya itu. Keselarasan yang berhubungan dengan kemampuan menulis itu sudah pernah ditulis dengan jelas sejelas-jelasnya oleh bu Endah Soekarsono (Sekolah Tetum) dalam artikel http://www.asahasuh.com/pra-sekolah/61-calistung-dan-reflek-primitif.html. Dari artikel itu lagi-lagi kita memahami bahwa menuls bukan melulu hasil stimulasi tetapi hasil dari kematangan otak dan fisik.



Saat menulis anak perlu berbekal kekuatan otot motorik halus. Otot motorik halus meliputi otot-otot kecil terutama otot-otot yang ada di tangan. Dengan otot motorik halus yang kuat, anak dapat memegang pensil dengan benar, dan dapat mengendalikan tanggannya dengan baik saat menulis.

 Kekuatan otot motorik halus ini terasah saat anak

- menggunting
- menggambar
- menempel
- mewarnai
- meronce
- bermain playdough/ lilin malam/ plastisin
- menelusuri maze
- menebalkan garis/ gambar
- bermain puzzle

 Semakin anak banyak bermain dengan menggunakan tangannya, semakin kuat motorik halusnya. Demikian pula jika anak semakin banyak menuntaskan tugas keseharian tanpa bantuan, yang berarti banyak menggunakan tangannya sendiri untuk makan, memasukkan kancing, membersihkan diri, mandi, memasukkan tali sepatu, memakai sepatu sendiri, anak semakin terampil dan kuat otot motorik halusnya.

 Sayangnya sudah ada TK yang langsung mendrill anak untuk menulis angka, huruf, bahkan sampai dikte. Plus mengurangi waktu bermain mereka untuk latihan menulis abjad dan huruf, tanpa memperhatikan bahwa otot motorik halus anak-anak masih lemah. Padahal simaklah bagaimana anak  untuk memegang pensil degan benar saja belum tercapai, karena genggaman tangannya masih lemah. Apalagi untuk menggerakkannya dengan benar.



Ketika hal itu terjadi, apa selanjutnya yang dirasakan anak? Capek  dan bosan. Kalau sudah begitu, seperti yang dilihat orang tua kemudian sebagai malas menulis. DItambah omelan orang tua, semakin "lari" lah anak dari menulis.

 Karenanya saya biasanya bertanya pada orang tua yang melihat anaknya enggan sekali untuk menulis.

Pertama yang saya tanyakan adalah usia, bagaimanapun diperlukan kematangan fisik dan otak untuk mengkoordinasikan mata, tangan, dan pikiran.

Kedua, saya bertanya sudah banyakkah aktivitas/ permainan motorik halus yang dilakukan,

Ketiga, sudahkah anak mandiri, bisa menuntaskan tugas kesehariannya tanpa bantuan. Tuntas dengan tangannya sendiri.

Keempat, sudahkah anak memahami penting dan asyiknya menulis.

 Pertanyaan keempat penting saya tanyakan, karena lagi-lagi dalam pendidikan anak usia dini (play group sampai kelas 3 SD), yang terpenting adalah menanamkan bahwa ketrampilan baru baik berupa membaca, menulis ataupun berhitung adalah sesuatu banget....yang asyik!

Bagaimana asyiknya?

Ajaklah anak untuk menulis namanya, di setiap karya yang ia buat. Misal sudah menggunting dan menempel. Ajak anak menuliskan namanya, sehingga anak tahu bahwa menulis itu ada manfaatnya yaitu menandai bahwa karya itu ciptaan dan miliknya.

 Ajaklah anak untuk menggambar, lalu tuliskan namanya, dan tanyakanlah apa yang sedang digambar, lalu tulislah jawaban anak di bagian yang kosong. Maka anak akan memahami bahwa hal-hal yang diucapkan itu dapat ditulis.

 Ajak anak meniru tulisan yang ada dalam berbagai kemasan makanan, atau minuman. Anak akan paham apa yang ia baca, bisa Ia tuliskan.

 Letakkan terigu atau gula dalam nampan, dan ajaklah anak menulis di atas terigu atau gula itu seperti menulis di atas pasir. Maka simaklah kegirangan mereka saat menulis.

 Betapa banyak hal yang bisa kita lakukan bahwa menulis itu menyenangkan. Tidak membosankan berupa menebalkan huruf lagi, menebalkan huruf lagi. Dikte lagi...dikte lagi.

 Perjalanan anak masih panjang, suatu saat bukankah indah jika kita bisa melihat anak menuangkan idenya lewat tulisan. Bukan sekedar bisa menulis huruf a, i, j, k. Bukan pula hanya bisa menuliskan apa yang kita diktekan. Bukan pula hanya menulis catatan yang kita tulis di papan tulis. Kemampuan menuangkan ide dalam tulisan, itu perlu rasa suka. Rasa suka itu muncul dari bermain, dari hal yang santai, dari hal yang menyenangkan, dari hal yang sederhana.

 Yuk, ah ajak anak menulis dalam senang....



- lita edia -
sent from Beautiful Earth

 

0 komentar:

Posting Komentar