Kecelakaan yang
menimpa Sam Schmid memang parah. Ia pulang latihan basket lalu tiba-tiba
sebuah mobil van menabrak mobil jipnya hingga terjungkal. Pemuda 21
tahun itu kemudian koma sejak 19 Oktober 2011 lalu.
Schmid yang adalah mahasiswa dari University of Arizona terus menjalani
perawatan. Dokter sudah angkat tangan karena tak ada yang bisa
dilakukannya lagi karena parahnya cedera otak. Pemuda itu kemudian
dibawa ke Barrow Neurological Institute di St Joseph Medical Center di
Phoenix untuk dilakukan operasi aneurisma (pembuluh darah).
Schmid ditangani oleh tim dokter yang diketuai Dr. Robert Spetzler.
Dokter menggunakan alat seperti balon untuk menopang kerja pembuluh
darah Schmid. Cara ini berhasil namun otak Schmid tak bekerja. Yang
membingungkan dokter, tak ada kerusakan fatal pada otak dari hasil scan
MRI yang dilakukan. Hal itulah yang membuat Spetzler dan dokter timnya
tetap mendukung Schmid dengan peralatan agar ia tetap "hidup".
"Ada banyak kerusakan seperti perdarahan, gangguan pembuluh, dan stroke,"
kata Spetzler. "Tapi dia tidak memiliki gumpalan darah di bagian paling
vital di otaknya. Yang kami tahu, ia tidak dapat dipulihkan," katanya.
Kondisi itu disampaikan ke keluarganya. Bahkan sudah ada wacana agar organ Schmid disumbangkan bagi kemanusiaan.
Spetzler masih memiliki satu prosedur yang akan dilakukan yaitu MRI
untuk melihat apakah daerah kritis dari otaknya telah berubah gelap yang
menunjukkan kematian otak. "Kami akan bertahan dan terus dukung dia,"
kata Spetzler. "Tapi saya tidak ingin memberi harapan palsu pada
keluarga," katanya lebih lanjut.
Keluarga pun sudah pasrah. Tak ada yang bisa dilakukan selain berdoa.
Bahkan mungkin tawaran mendonorkan organ Schmid pun sudah masuk dalam
pertimbangan mereka. "Saya tahu, kami pada akhirnya harus memberikan
keputusan meski saya terus berdoa," kata Susan Regan, ibu Schmid.
Namun ketika wacana pendonoran makin intensif, pada 24 Oktober 2011
tiba-tiba telunjuk Schmid bergerak. Setelah itu sedikit demi sedikit
responnya makin baik. "Ini ajaib!" kata sang ibu.
Sekarang Schmid sudah bisa berjalan meski harus menggunakan alat bantu
dan bisa bicara meski pelan. Dokter yang menanganinya mengaku heran
melihat perkembangan Schmid. "Saya heran dengan kesembuhan yang begitu
cepat mengingat luka yang dialaminya sangat mematikan," kata Spetzler.
Namun para dokter di rumah sakit itu memuji keteguhan Spetzler yang
terus mempertahankan Schmid tetap mendapat dukungan peralatan agar tetap
hidup. Mereka menganggap Spetzler memiliki firasat bahwa Schmid
masih bisa siuman. Keyakinan itulah yang membuat pemuda itu sekarang
bisa kembali dan diperkirakan akan sembuh normal.






















0 komentar:
Posting Komentar