• Abis Pulang Jalan jalan
  • Bergaya
  • Foto foto di jogyakarta
  • Segera Buatlah Blog Anda SeKreatif Mungkin,Saya Akan Membantu Anda.
  • Sangat Berkwalitas Yang Cukup Baik Dan Tidak Panas Di badan.
  • Ini Merupakan Kemasan Terbaru Dari Coklat Pasta Diamond. Kemasan Plastik Kedap Udara, Terdapat Tutup Untuk Memudahkan Buka / Tutup.

Selasa, 16 Agustus 2011

Perjalanan Rumah – Asrama Haji, Selasa, 13 Desember 2005.

Setelah didoakan dan dikumandangkan azan, kami berangkat menuju tempat yang ditunjuk oleh Yayasan YAPIMDA untuk berangkat bersama-sama ke asrama haji Pondok Gede.Waktu menunjukkan sekitar pukul 6.30 pagi. Sampai di tempat tujuan yaitu di depan es puter Poltangan sekitar jam 7. Dua buah bus sudah menunggu. Kami langsung masuk dan mencari tempat duduk. Sampai seluruh calon jamaah berkumpul, barulah kami berangkat ke asrama haji. Perasaan saat itu berdebar-debar tidak karuan. Akankah saya sampai ke tanah Haram? Apakah dosa-dosa saya akan menghalangi langkah dan niat saya berhaji? Rasa takut dan cemas mendera. Belum lagi rasa tidak menentu meninggalkan keluarga (papa dan suami (baru 3 minggu kami menikah)).

Sesampainya kami di kompleks asrama haji, kami ganti bus operasional milik asrama yang mengantarkan kami ke pemondokan sementara. Kami ditempatkan di lantai 2 (atau lantai 3 saya lupa, nama gedung juga lupa). Di satu kamar ada 5 tempat tidur tingkat dua dengan kamar mandi terletak diluar. Ada beberapa kamar mandi dan tempat wudhu, sehingga kami tidak perlu antri. Hanya semalam kami disana, tapi waktu terasa lama sekali. Kami ingin cepat-cepat tiba di Madinah dan Mekah.

Siang hari setelah melepas lelah, kami dikumpulkan untuk menerima pembagian uang living cost, gelang identitas, masker dan paspor. Malam hari kami tidak bisa tidur. Mama sempat masuk angin dan dibawa ambulans. Ini jadi lucu karena mama bisa jalan dan bukan sakit parah. Rupanya salah informasi ke pembimbing kami. Teman sekamar kami juga ada yang demam. Alhamdulillah setelah dikerok, dipijat dan minum obat serta atas izin Allah, mama cepat pulih. Sayangnya teman kami belum sehat betul.

Esok paginya, kami diminta siap jam 8 karena jam 10 pagi berangkat ke bandara Soekarno Hatta. Ternyata jam 8 ada perubahan, katanya diundur jadi jam 1 siang. WAduh, kami jadi bertanya-tanya apakah ini suatu pertanda yang tidak baik? Tapi kami bersabar, mungkin ada sesuatu yang harus diperbaiki. Akhirnya kami tetap berangkat jam 10 pagi, dengan beriringan bus yang dikawal petugas kepolisian dalam jalur khusus tanpa putus. Mendengar suara sirene mobil polisi, jantung kami berdegup kencang, berlomba-lomba dengan nyaring sirine. Ya Allah, perasaan ini, semakin tak menentu. Kami ibarat rombongan dalam jalur khusus perjalanan menuju tempat tak berujung dan bertepi, tempat yang terisolasi, tempat yang ada dalam dongeng-dongeng…

Memasuki komplek bandara, perasaan sangat excited. Kami diantar ke terminal khusus haji.Turun dari bus, kami berbaris melalui gerbang pemeriksaan. Segala bentuk benda tajam diminta untuk diserahkan pada petugas.

Sesampainya di dalam, sejuk pendingin udara terasa. Karpet hijau muda terasa empuk diinjak. Kami pun menunggu kedatangan pesawat. Kami sholat jama’ zuhur dan ashar di mushola yang disediakan. Kami pun sempat beli roti dan air mineral di kantin sambil menunggu kedatangan pesawat. Hampir semua calon jamaah terlihat tidak sabar untuk segera berangkat.

Akhirnya kami dipanggil, diminta berbaris menurut rombongan masing-masing untuk segera masuk ke pesawat. Begitu keluar pintu terminal, terdengar bising mesin pesawat di luar terminal. Wow, besar sekali ukurannya. Pesawat yang ditempeli logo maskapai Garuda ini rupanya pesawat sewaan dari maskapai penerbangan di Atlanta.

Kami cukup jalan kaki dari terminal ke pesawat karena pesawat diparkir mendekati terminal. Kami masuk dari pintu depan. Lumayan juga jarak dari pintu depan pesawat ke tempat duduk kami. Bayangkan saja, lebih dari 450 kursi penumpang dalam pesawat itu. Ada 10 kursi dalam 1 baris dan ada 3 kolom. Urutannya dari kiri ke kanan adalah 3-4-3. Sekitar 5-6 baris dibatasi dinding yang dipasangi layar tivi. Di layar ditayangkan petunjuk-petunjuk keselamatan penerbangan, petunjuk-petunjuk pelaksanaan ibadah haji serta posisi pesawat terkini lengkap dengan petanya.

Saya yang biasanya naik Boeing 737 atau pesawat lain yang maksimal 160 penumpang, kali ini merasakan bedanya. Pesawat jumbo jet itu penuh dengan wajah-wajah penuh harap, penuh dengan warna-warni pakaian seragam rombongan.
Perjalanan Jakarta – Madinah, Rabu, 14 Desember 2005

Pesawat take-off jam 1 siang waktu Indonesia Barat. Waktu berlalu. Setelah 10 jam perjalanan akhirnya pilot, seorang pria paruh baya berkebangsaan Kanada (kalau saya tidak salah ingat, tapi dari namanya sepertinya berdarah Irlandia), mengumumkan bahwa sebentar lagi kami akan mendarat di bandara Madinah. Degup jantung ini berlomba-lomba dengan suara mesin pesawat. Ketika pesawat semakin merendah, terlihat siluet pohon-pohon korma dan bangunan berciri khas Arab dengan atap datar. Lampu-lampu di bandara berwarna putih terang benderang.

Begitu roda pesawat menginjak landasan dan meluncur mendekati lokasi yang ditunjuk oleh petugas bandara, terdengar seruan “Alhamdulillah”. Ya, semua bersyukur perjalanan dilalui dengan selamat dan tanpa ada kendala. Semua bersyukur akhirnya bisa tiba di Madinah. Saat saya menulis paragraph ini, hati saya ikut meloncat-loncat menemani air yang menggenang di balik bola mata saya.

Anak tangga saya lalui dengan rasa yang mengharu biru. Ya Allah, terima kasih atas perkenanMu. Maafkanlah hambaMu ini wahai Maha Pengasih. Betapa Maha Baik Engkau ya Allah, aku yang banyak dosa ini Engkau perkenankan menginjak kota suci tempat peristirahatan Muhammad RasulMu.

Memasuki gerbang imigrasi, tercium aroma wangi yang membuat hati langsung jatuh hati. Aduh, parfum apa ya yang dipakai? Siapa ya yang pakai? Tidak ada petugas perempuan. Semua laki-laki. Mereka mengenakan pakaian kebangsaan, baju gamis putih dengan kaifiyeh merah. Ada juga petugas yang mungkin dari keamanan karena mengenakan pakaian seperti polisi/tentara.

Di pintu terakhir, kami diberikan beberapa buku yang isinya panduan tentang haji dan tempat-tempat yang biasa dikunjungi. Setelah keluar dari bandara, kami naik bus yang telah disediakan. Di atas bus ada tempat untuk menaruh koper-koper kami. Kami pun dibagikan semacam kartu nama dalam bahasa Arab yang isinya informasi tentang hotel tempat kami menginap nanti. Mungkin khawatir kami tersesat. Setelah semua bagasi dinaikkan ke atas bus, kami pun berangkat menuju hotel.

Dalam kegelapan malam, tampak siluet bukit-bukit pasir, pohon korma serta rumah-rumah penduduk. Begitu memasuki kota, nun di sana dari kaca depan bus kami melihat tiang menara mesjid Nabawi yang putih terang. Di kanan kiri jalan berderet toko-toko, stasiun pengisian bahan bakar, yang semuanya benar-benar putih terang benderang. Semakin dekat dan semakin dekat menara-menara mesjid di depan mata. Sampai akhirnya bus berhenti dan mulai menurunkan barang-barang penumpang. 

‘Arbain di Madinah 16 des – 23 des 2005


Sesampainya di Madinah, waktu menunjukkan sekitar waktu Ishaa. Pastinya kami terlambat untuk sholat di mesjid Nabawi karena barang-barang kami banyak yang berceceran. Koper saya yang terakhir ditemukan, ada di gedung lain yang jaraknya 1-2 blok dari pemondokan rombongan kami. Wuih, sempat ketar-ketir juga, sempat terlintas apakah dosa hamba yang hamba lupakan? Akhirnya ketemu juga, langsung diseret ke pemondokan di lantai 5.

Nah, pembagian kamarnya juga seru. Khusus jamaah wanita yang single (suami tidak ikut) ditempatkan di satu kamar. Kami sekamar berdelapan. Ada ibu Aisyah, ibu Haeroni, mpok ...., suami istri bapak Mar Ali dan ibu Yusnani. Kamar mandi ada 4 atau 5 (saya lupa). Kami bergantian antri ke kamar mandi. Malam itu kami tidur dengan rekaman pemandangan dan perasaan selama perjalanan menghiasi mimpi.

Esok dini hari kami bangun untuk mandi dan sholat subuh di mesjid Nabawi. Sebelum jam 4 waktu setempat, kami sudah sampai di mesjid. Kami mengambil tempat di halaman sambil menikmati udara pagi Medinah yang dingin menusuk tulang. Kami sibuk mencari karpet yang tampaknya tidak basah, tapi sulit. Semua karpet terasa sedingin es begitu telapak kaki menjejak. Bukan karena basah. Karena udaranya memang dingin. Kami mendengar azan. Kami kira azan untuk memulai sholat subuh. Ternyata azan untuk membangunkan penduduk dari tidurnya. Setelah itu mendekati waktu subuh, dikumandangkan lagi azan. Barulah kami sholat di mesjid Nabawi untuk yang pertama kalinya dalam rangkaian sholat ’Arbain.

Seperti yang dipesan oleh ketua rombongan, melting point kami di depan Hotel Oberoi. Sisi timur laut dari kubah Hijau. Pulang ke pemondokan, suasana dingin masih terasa. Jarak pemondokan ke mesjid tidak sampai 1 km. Dalam perjalanan pulang, kami membeli sarapan berupa nasi putih yang dibungkus plastik ditambah lauk pauk. Setiap bungkus dihargai 1 Riyal Saudi. Yang jual kebanyakan orang Indonesia yang visanya sudah habis (penduduk gelap, yang umumnya etnis Banjar dan Madura).

Pemondokan kami bersebelahan dengan toko yang menjual kebab dan semacam kue dadar. Kue dadar tanpa cocolan kacang humus yang dilumatkan harganya 1 Riyal. Dengan cocolan, jadi 2 Riyal. Enaknya dimakan selagi hangat.

Raudhah, salah satu tempat multazam, begitu sulit disinggahi jamaah perempuan. Karena letaknya dekat mimbar, yang otomatis hanya jamaah laki-laki yang boleh setiap saat ke Raudhah. Jamaah perempuan mendapat giliran pada pagi hari sebelum zuhur dan sebelum ashar. Jadi setelah sholat zuhur, pintu-pintu pembatas antara jamaah laki-laki dan jamaah perempuan dipenuhi jamaah perempuan yang berdiri antri menunggu pintu dibuka.

Kali pertama, kami diajak masuk dari pintu arah makam Baqi’. Dipandu Hajjah Elly putri pertama Haji Masduki Salam. Yang kedua kali, kami berlima: mama, bu aisyah, bu chaeroni, nenek, dan saya.

Selama di Madinah, kami diajak wisata keliling mesjid Nabawi, ke Baqi’ (tapi hanya jamaah laki-laki yang boleh masuk ke kompleks makam Baqi’), kebun kurma dan pasar kurma. Di Madinah, kami berbelanja oleh-oleh haji berupa sajadah, jilbab, kurma yang kami packing dan dikirim ke tanah air lewat cargo. Ada handuk kecil warna putih dengan sulaman bunga kuning dan renda cantik buatan Turki, jilbab putih dengan sulaman khas Pakistan yang dibeli di toko-toko di blok belakang hotel Oberoi. Stocking warna krem dan hitam yang dijajakan di halaman mesjid.

Kalau liat jamaah perempuan dari Turki, kepingin banget kaus kaki rajutnya. Habis lucu, tubuhnya rata-rata pendek gemuk tapi kakinya kecil pakai kaus kaki rajut yang tingginya cuma semata kaki. Ternyata mereka buat sendiri dan sengaja dibawa untuk dijual selama di tanah suci.

Kalau dihitung sejak kedatangan di Medinah, tanggal 15/12 waktu Ishaa, maka ’arbain dihitung dari zuhur tanggal 16/12 sampai subuh tanggal 23/12/2005.

0 komentar:

Posting Komentar