• Abis Pulang Jalan jalan
  • Bergaya
  • Foto foto di jogyakarta
  • Segera Buatlah Blog Anda SeKreatif Mungkin,Saya Akan Membantu Anda.
  • Sangat Berkwalitas Yang Cukup Baik Dan Tidak Panas Di badan.
  • Ini Merupakan Kemasan Terbaru Dari Coklat Pasta Diamond. Kemasan Plastik Kedap Udara, Terdapat Tutup Untuk Memudahkan Buka / Tutup.

Minggu, 14 Agustus 2011

Pengobatan

Bermula ketika seorang sahabat menceritakan myom yang diderita oleh isterinya. Dokter menyarankan untuk mencari pengobatan alternatif karena dikhawatirkan akan muncul keloid di bekas luka operasinya jika harus dioperasi. Kalau jaringan yang diambil mengandung sel kanker, biasanya akan muncul keloid di bekas luka.

Teringat pengobatan yang pernah saya jalani di tahun 1993. Waktu itu hasil USG memperlihatkan adanya kista di indung telur sebelah kanan dengan ukuran 2x3 cm. Beruntunglah saya karena  orang tua saya memilih pengobatan alternatif. Alasannya saya belum menikah dan mengingat organ reproduksi adalah asset yang sangat berharga buat anak tunggalnya.

Singkat cerita, sampailah di tempat praktek Sinshe Abdul Kadir (mudah-mudahan saya tidak salah ingat nama beliau, karena sudah lama sekali) di Toko Obat Sari Alam, Jalan RA Kartini Raya No. 55D, Jakarta Pusat 10750, Telepon +62216391243.

Lokasinya berupa rukan yang banyak berderet di sepanjang Jalan Kartini Raya. Begitu masuk, kita disambut pemandangan laci-laci kayu dan toples-toples berisi bahan-bahan obat dalam bentuk rajangan kering. Ada seorang petugas yang mencampur dan menimbang kemudian membungkus racikan obat dengan kertas kopi (sampul buku warna coklat itu lho).

Ruang tunggunya sederhana. Berupa bangku kayu panjang dan beberapa kursi yang modelnya cukup kuno menurut saya. Ada beberapa helai surat kabar dengan aksara Mandarin yang sudah pasti saya tidak bisa membacanya. Ukuran ruang tunggu seingat saya juga tidak terlalu besar. Mungkin 3x4m kurang lebihnya.
Petugas yang menimbang racikan obat tersenyum kepada kami. Orangnya berperawakan kurus dengan wajah Tionghoa yang ramah. Sesekali seorang perempuan membantunya. Mungkin istri sinshe.

Ketika kami dipersilakan masuk ke ruang praktek sinshe Abdul Kadir, ruangannya sederhana. Meja kayu sederhana, 2 buah kursi dengan model kuno untuk pasien, patung miniatur manusia yang menggambarkan titik-titik dan organ-organ tubuh. Di dinding ada gambar penampang telinga dan titik-titik syaraf, semuanya dengan keterangan aksara Mandarin.

Penampilan sinshe Abdul Kadir sangat sederhana. Dengan kaos singlet model T-shirt dan celana panjangnya, beliau melayani pasiennya tanpa beban. Santai banget. Raut wajahnya pun bersih, bercahaya. Saya pun ikut santai dan berasa di negeri Tiongkok hehe.. Soalnya waktu itu juga lagi ngetop tayangan Misteri Siluman Ular Putih dengan nama tokohnya Pay Tzu Chen (salah ga ya spellingnya?) di salah satu stasiun televisi swasta.

Kembali ke pengobatan. Pertama ditanya keluhan pasien. Saya cuma cerita sakit perut bawah kanan. Lalu sinshe periksa nadi di pergelangan tangan dan periksa telinga saya dengan bantuan alat yang sepintas mirip accu mini.

Lalu beliau bilang sambil menunjuk ke patung miniatur manusia, lokasi sakit yang saya derita. Katanya, "You punya kista di indung telur kanan. Ini kebiasaan orang Betawi kalo lagi haid suka keramas dan minum air es atau air dingin. Tapi bisa sembuh, nanti saya kasih obat. You ga bisa minum yang godogan jadi saya kasih yang udah jadi. You ga tahan sama jamu-jamuan, bisa muntah-muntah. Selama minum obat saya, you pantang jeruk, tauge, terasi, kerang" (yang lainnya saya lupa). Untung nggak dipantangin cabe/sambel hehe..

Dalam hati saya, tau aja ini Sinshe kalau saya paling eneg minum jamu godogan atau jamu instan yang pahit atau manis. Kalau air jahe, beras kencur atau kunyit asam saya masih doyan hehe.. Lain dari itu, no way!

Lalu apa hubungannya keramas dan air es? Kata Sinshe Abdul Kadir, elemen panas di tubuh bawah (organ reproduksi perempuan) tabrakan dengan elemen dingin dari kepala yang dikeramas atau perut yang diisi air es. Ooo...gitu.

O ya, beliau nggak suka dipanggil 'Kokoh' atau 'Engkoh' (katanya emang beliau kakak saya?) atau dipanggil 'Dokter' (karena dokter untuk pengobatan ala Barat) atau 'Pak' (beliau bukan bapak kantoran atau bapak pejabat) atau 'Empek' (beliau bukan kakek saya). Beliau bersikeras dipanggil dengan sebutan 'Sinshe' dan beliau bangga, karena mendapat gelar Sinshe tidaklah mudah.

Selesai periksa, Sinshe menuliskan resep (perkiraan saya, karena saya asli nggak bisa baca tulisannya yang bukan latin) di sehelai kertas. Kemudian menyebutkan tarif periksa dan langsung bayar ke beliau.

Keluar dari ruang praktek, saya menyerahkan kertas tersebut ke petugas di depan tadi. Petugas tersebut dengan cekatan mencari obat-obatan yang diperlukan dan menuliskan dosisnya.

Alamak, melihatnya saya terbayang tenggorokan saya akan dipenuhi dengan butiran pil-pil tersebut. Ada lebih dari 2 macam obat, yang masing-masing sekali minum 5-8 butir, 2-3 kali sehari. Huekk..
Setelah membayar, kami pun pulang. Kami diminta datang lagi seminggu kemudian.

Kunjungan kami yang keempat kalinya, diberikan obat yang berbeda. Saya merem aja, dan nggak mau baca komposisi obatnya. (Belakangan saya baru berani baca, ada buntut ular atau taring ular atau kulit ular pokoknya ada kata-kata 'snake' yang saya bisa ingat. Lalu ada komponen dari rusa/menjangan juga kodok. Untungnya cuma itu yang saya ingat. Fyiiuuuuhh...)

Sinshe bilang, jangan kaget kalo setelah minum obat yang sekarang ini akan keluar sisa-sisa materi kistanya berbarengan siklus haid. Dan setelah itu, saya diminta datang sekali lagi.

Wah, ternyata benar. Maaf ya, gumpalan-gumpalan seperti tetelan atau potongan kulit ayam ukuran 1-3cm berwarna putih abu-abu pucat keluar di hari terakhir haid. Bukan warna merah/hitam sebagaimana hari-hari sebelumnya. Sebelum ke Sinshe, saya periksa lagi ke dokter. Hasil USGnya tidak ada kista di organ reproduksi saya. Alhamdulillah.

Kelima kalinya, saya ceritakan ke Sinshe. Beliau bilang penyakitnya sudah rontok dan sekarang tinggal pemulihan saja. Saya diberi vitamin, dan selesai sudah pengobatan saya.

Alhamdulillah hingga kini, tahun 2010 atau 17 tahun sejak saya berobat, tidak ada masalah dengan reproduksi saya. Saya pun bisa memberikan hadiah 2 orang cucu yang sehat, lucu, cerdas buat kedua orang tua saya.

Terima kasih Sinshe Abdul Kadir. Saya berdoa semoga istri sahabat kami bisa berhasil sembuh dengan bantuan pengobatan Sinshe. Semoga Tuhan membalas jasa Sinshe.

0 komentar:

Posting Komentar